7 Cara Mengelola Keuangan Usaha Warung Agar Berjaya

  • Whatsapp
cara mengelola keuangan usaha warung
cara mengelola keuangan usaha warung

Pada dasarnya, cara mengelola keuangan usaha warung sama saja dengan usaha yang lain. Hanya tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan, karena mungkin jenis barang yang dijual pada setiap warung berbeda. Kini tak perlu bersusah payah lagi, karena berikut panduan yang bisa diikuti.

Usaha warung kelontong merupakan salah satu jenis bisnis dengan keuntungan sangat menggiurkan. Meski sudah banyak minimarket, warung tetangga tetaplah menjadi idola. Sebab, dari segi harga sendiri biasanya lebih miring daripada minimarket maupun swalayan. 


cara mengelola keuangan usaha warung

Inilah Cara Mengelola Keuangan Usaha Warung Kelontong

Meski hanya berupa warung kelontong, bagian keuangan harus dikelola dengan baik. Hal ini bertujuan agar pemilik warung dapat mengetahui keuntungan yang diperoleh, sehingga dapat memutarkan kembali modal yang dimiliki. Berikut cara mengelola keuangan usaha warung yang baik:

1. Pisahkan Uang Pribadi dengan Usaha

Dalam cara mengelola keuangan usaha warung, pemisahan uang pribadi dengan uang usaha sangat dianjurkan, apapun jenis usaha yang sedang digeluti. Meski terlihat sepele, tetapi sikap ini dapat memberikan dampak cukup besar bagi perkembangan usaha. 

Sebab, tanpa pemisahan yang jelas, mungkin saja pemilik mengambil modal usaha untuk kepentingan pribadi. Sedikit demi sedikit, pengambilan tersebut lama-lama akan menjadi bukit. Modal yang tadinya besar pun lama kelamaan akan menyusut, sehingga warung terancam bangkrut.

2. Terapkan Sistem FIFO

FIFO merupakan singkatan dari First In First Out yang artinya barang yang awal masuk, maka harus dikeluarkan terlebih dahulu. Praktik cara mengelola keuangan usaha warung yang satu ini bertujuan agar barang tidak sampai melebihi masa kedaluwarsanya.

Dengan demikian, stok barang pun selalu terjamin baru dan pelanggan merasa puas karena mendapatkan barang berkualitas. Selain itu, penjual pun dapat mengetahui jenis-jenis barang yang mengalami perputaran cepat dan barang yang kurang diminati oleh pelanggan. 

3. Hindari Tumpukan Barang

Jangan harap cara mengelola keuangan usaha warung akan berhasil, jika masih ada tumpukan barang di gudang. Hal ini dikarenakan penumpukan barang dapat menghambat perputaran modal. Pendapatan yang seharusnya dapat digunakan untuk berbelanja kembali menjadi tertahan, karena barang belum laku.

Di sinilah pentingnya penjual mengetahui barang mana yang lebih laku dan tidak. Lebih baik menyetok barang dengan jumlah sedikit tetapi lengkap, daripada stok banyak tetapi barang banyak yang kosong. Oleh karena itu, kendalikan nafsu untuk kulakan berlebihan.

4. Tentukan Harga Jual yang Benar

Penentuan harga jual juga memegang peranan penting dalam cara mengelola keuangan usaha warung. Sebab, dari sinilah penjual akan memperoleh keuntungan atau laba usaha. Namun, perlu diperhatikan perbedaan harga 100 rupiah pun akan memengaruhi pembeli.

Sebelum menentukan harga alangkah lebih baik untuk survei dulu ke beberapa supplier dan warung lain. Selain mencari supplier dengan harga miring, langkah ini bertujuan untuk melihat patokan harga yang diterapkan oleh pesaing. Adapun strategi yang biasa diterapkan dalam penetuan harga jual, yaitu:

a. Barang yang cepat habis, maka persentase laba tidak lebih dari 10%. Contoh: kecap, minyak goreng, tepung terigu, mie instan, dan lain-lain.
b. Barang yang lakunya cukup lama, maka ambil persentase sekitar 20-25%. Contoh: obat-obatan, parfum, alat tulis, dan lain-lain.
c. Harga jual sesuai dengan harga yang tercantum pada kemasan.
d. Harga jual mengikuti pecahan rupiah yang ada.
e. Tetapkan harga dengan angka depan lebih kecil. Contoh: harga Rp 19.800 akan terlihat lebih murah dari harga Rp 20.000.

Di dalam cara mengelola keuangan usaha warung juga dikenal istilah ‘harga tanggung’. Strategi harga yang satu ini biasanya untuk warung-warung dengan persaingan ketat, seperti kios pasar. Sementara untuk menghitung harga jual barang, rumus yang dapat diterapkan, yaitu:

“Profit = (Modal x Persentase laba yang diinginkan) : 100”
Contoh: Penjual membeli kecap dengan harga Rp 3.800 dan persentase laba yang diinginkan 10%. Jika dimasukkan ke dalam rumus di atas, maka profitnya yaitu (Rp 3.800 x 10) : 100 = Rp 380. Harga jual kecap = Rp 3.800 + Rp 380 = Rp 4.180 dibulatkan menjadi Rp 4.200.

7 Cara Mengelola Keuangan Usaha Warung Agar Berjaya

5. Membuat Pembukuan

Membuat pembukuan usaha merupakan poin krusial di dalam cara mengelola keuangan usaha warung sembako. Sebenarnya, hal ini juga berlaku untuk semua jenis usaha yang dijalankan. Sebab, melalui laporan keuangan penjual dapat mengetahui kondisi keuangan secara berkala dan realtime. Adapun langkah-langkah yang dapat diterapkan, yaitu:

a. Catat Pengeluaran

Cara mengelola keuangan usaha warung agar lebih teratur, maka penjual harus rutin melakukan pencatatan. Setiap satu rupiah pun dari modal yang dikeluarkan harus masuk ke dalam pembukuan. Entah itu untuk keperluan belanja stok warung, bayar listrik, ongkos kuli, perlengkapan warung, dan lain-lain.

b. Catat Pemasukan

Selain pengeluaran, setiap satu rupiah pun yang masuk ke dalam kas juga harus masuk ke dalam pembukuan. Entah itu hasil dari penjualan barang, penjualan barang sisa (contoh: kardus), dan lain-lain. Jangan sampai ada yang terlewat, karena pemasukan akan menjadi peluang laba yang dihasilkan.

c. Catat Stok Barang

Selain pemasukan dan pengeluaran, di dalam cara mengelola keuangan usaha warung juga ada pencatatan stok barang. Adapun tujuan dari pencatatan inilah adalah untuk memberikan pengawasan lebih terhadap operasional warung. Dengan demikian, risiko ada selisih stok dapat diminimalisir dengan baik.

d. Membuat Laporan Laba Rugi

Untuk usaha warung kelontong, maka laporan laba rugi dapat dibuat sesederhana mungkin. Pada intinya menggunakan rumus ‘Total Pemasukan – Total Pengeluaran’. Meski demikian, penjual harus benar-benar teliti untuk melakukan pencatatan setiap transaksi yang terjadi. 

6. Meminimalisir Hutang-Piutang

Utang piutang merupakan perkara yang paling umum dalam dunia usaha, termasuk dengan warung kelontong. Namun, untuk mensukseskan cara mengelola keuangan usaha warung, maka kedua hal tersebut harus benar-benar dipantau dengan baik.

Warung berutang biasanya untuk keperluan belanja ke supplier (menggunakan sistem tempo). Jika memang memungkinkan untuk melakukan pembelian dalam bentuk tunai, maka hindari berhutang. Sebab, hal ini justru akan menambah beban warung dan meminimalkan laba.

Sementara piutang adalah stok warung yang dihutang oleh pelanggan atau konsumen. Semakin banyak stok yang di hutang pelanggan, maka semakin banyak pula modal yang tertahan. Oleh karena itu, tegaslah terhadap batas maksimal pembayaran piutang.

7. Gaji Diri Sendiri

Meski warung kelontong tersebut milik pribadi, tetapi menggaji diri sendiri merupakan cara penting dalam mengelola keuangan usaha warung. Hal ini perlu dilakukan agar penjual dapat mengetahui laba bersih yang diperoleh. Di sini, profesionalisme kerja tetap harus dijunjung tinggi. 

Selain itu, gaji pemilik berhubungan erat dengan pemisahan antara uang pribadi dengan uang usaha. Sementara untuk besarannya sendiri dapat disesuaikan dengan persentase laba yang diperoleh serta beban utang yang harus ditanggung. Oleh karena itu, pertimbangkan dengan baik sebelum menetapkan persentase gaji.

Bagaimana, ternyata cara mengelola keuangan usaha warung sangat mudah, bukan? Apapun jenis usaha yang Anda geluti, langkah-langkah di atas dapat diterapkan. Tinggal modifikasi sendiri saja sesuai dengan kondisi di lapangan dan kebutuhan. Semoga dapat dimanfaatkan dengan sebagaimana mestinya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *